Petonx : Cerita Seorang Penerima Beasiswa CIMET Erasmus Mundus

Cerita Seorang Penerima Beasiswa CIMET Erasmus Mundus

Blank

Setelah pertemuan dengan prof yang berjalan super cepat, kuliah pun dimulai. I am not feeling well today. Bukan secara fisik, saya sehat secara fisik. Kayaknya psikis. Entahlah, mungkin kerinduan yang luar biasa pada keluarga. Rindu menyapa fatih anak pertamaku, mengajaknya keliling sekitar tempat kami tinggal. Rindu menggendong Raisya, my 4 month daughter, sambil mencubiti pipinya yang semakin gembil. Rindu pada istriku, wanita yang senantiasa menjadi partner dalam keadaan apapun. Aku rindu semuanya… Perasaan dulu mah gak pernah seperti ini. Dulu sejak kelas 3 SD, setiap liburan sekolah, selalu aja di pesantrenkan. Sebulan tanpa keluarga, tapi biasa aja. Tapi kenapa sekarang gini ya…? Homesick?

Baca selebihnya »

Oktober 17, 2008 Posted by | Cerita | , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Prof. Hakinen

Ku duduk di kursi tram paling belakang. Ku buka alquran saku yang sengaja kubuka, hari ini tilawah baru dikit. Harus ditambah biar hidup lebih bermakna. “Stasion Cite du Design”, woro-woro dari tram. Aku berdiri, bentar lagi turun. Eh, ternyata profesornya lagi disitu juga. Ngobrol deh. Namanya Prof. Jussi Parkinnen. Ini hari terakhir  pa profesor ada di France untuk mengajar kami. Minggu depan beliau akan pulang ke FInland. Makanya beliau bawa kopernya hari ini ke kelas.

Pas ketemu, beliau bilang, “Bisa jadi kita terlambat”, sambil tersenyum. Aku balas senyumnya dengan agak malu-malu karena hari sebelumnya aku terlambat ke kelas karena sholat dzuhur dulu di masjid terdekat. Kali aja pa profesor lagi nyindir (baca:ngingetin). Hmm..kami turun, dan dengan sigap profesor yang sudah cukup berumur ini mengeluarkan kopernya. Kami berjalan, eh enggak deng, setengah lari. Dengan sigap tangkai koper seret yang panjang itu dikeluarkannya dan beliau segera bergegas. Wah luar biasa cepat, aku yang suka dikatakan cepat kalau berjalan, kewalahan menyaingi kecepatannya. Luar biasa, umur sudah sekian saja masih segesit ini. Jangan-jangan pa profesor dulunya satu profesi dengan Mika Hakinen, kan sama-sama berakhiran nen.

Kami sampai di kelas, aku terengah, pa profesor juga. Belum sempat menghela nafas, temenku langsung menyambut dengan pa profesor dengan pertanyaan2 tentang kuliah kemarin. Beliau menjawabnya ditemani nafas yang saling berburu, tanpa minta istirahat dulu. Hmm…luar biasa.

Oktober 17, 2008 Posted by | Cerita | , , | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.